Jumat, 06 Februari 2015

Ditemukan, Kehidupan 19 Km di Bawah Permukaan Bumi

Ditemukan, Kehidupan 19 Km di Bawah Permukaan Bumi
Singkapan batu yang menandakan ada kehidupan 19 Km di bawah permukaan bumi (www.livescience.com)

VIVA.co.id - Kehidupan dalam perut bumi selama ini diperkirakan hanya beberapa satuan kilometer di bawah kerak bumi. 

Namun penelitian ilmuwan Universitas Yale menemukan kehidupan yang lebih dalam dari perkiraan. Ilmuwan menemukan ada kehidupan pada kedalaman sekitar 19 Kilometer. Temuan ini dianggap sebagai salah satu bukti kehidupan terdalam yang pernah ada di bawah permukaan bumi. 

Melansir Live Science, Jumat 6 Februari 2015, salah satu tim peneliti, Phillipa Stoddard, sarjana departmemen geologi dan geofisika Universitas Yale menemukan jejak bakteri pada batu di Pulau Lopez, barat luat Washington, AS. 

Pada batu tersebut, terdapat singkapan yang mengandung lapisan aragonit mineral. Struktur ini merupakan struktur geologi yang ada di bagian dalam bumi pada jutaan tahun lalu. Struktur bisa hadir dalam permukaan bumi akibat proses geologi. 

Nah, pada singkapan tersebut, ilmuwan menemukan kandungan unsur karbon ringan namun dengan kadar yang ganjil. Jejak karbon itu biasanya dihasilkan mikroba yang mengeluarkan senyawa metana berkarbon. 

Kadar karbon yang ganjil itu diperkirakan karena proses mikroba yang bertahan dari suhu dan tekanan ekstrim di dalam bumi. 

"Saya berpikir hasil sangat menggembirakan bagi kemungkinan adanya kehidupan di planet lain. Semakin banyak kita belajar tentang lingkungan yang ekstrim di planet kita, semakin kita menyadari betapa tangguh hidup ini," kata Stoddard. 

Dalam penelitian, bukti kehidupan ditandai dengan adanya karbon. Stoddard mencari rasio isotop karbon dua yaitu karbon-12 (C-12) dan karbon-13 (C-13). Karbon ini ternyata memiliki tujuh neutron, berbeda dengan jumlah karbon pada studi sebelumnya yang menunjukkan ada enam proton dan enam neutron pada inti atom.

Disebutkan hal itu akibat proses biokimia di masa lalu, isotop makin ringan. 

"Mengingat C-12 adalah isotop lebih ringan dan termodinamika dari C-13, maka C-12 benar-benar bisa bergerak lebih cepat," ujar dia. 

Disebutkan saat mikorba mengonsumsi molekul yang kaya karbon dan akhirnya mengeluarkan limbah metana dengan isotop C-12 lebih ringan dibanding C-13. 

Penelitian ilmuwan Universitas Yale itu sejatinya meneruskan penelitian pada 1990-an oleh JG Feehan dan Mark T. Brandon. Saat itu studi mengidentifikasi jejak karbon ringan dengan aragonit itu. 

Saat itu Feehan sudah menduga itu merupakan sidik jari dari kehidupan yang super dalam. Akhirnya dugaan itu dibuktkan dalam riset tim Stoddard. 

Peneliti mengatakan pendekatan serupa tersebut bisa memungkinkan terjadi pada kehidupan dalam planet di luar bumi. Misalnya di Mars. Terlebih dengan fakta permukaan Mars memiliki lingkungan yang berbahaya seperti radiasi kosmik dan terisolasi suhu ekstrim. 

Tim Stoddard masih terus mendalami temuan itu lebih rinci dalam beberapa bulan ke depan.

Apa yang Terjadi pada Mi Instan di Perut Kita?


Metrotvnews.com, Jakarta: Mi instan terbilang makanan yang cukup populer di kalangan masyarakat terutama bagi mahasiswa. Meski banyak yang mengetahui jika mi instan bukan makanan yang sehat, tak sedikit orang yang tetap kerap melahapnya.

Namun, apakah Anda tahu seperti apa kondisi perut setelah makan mi instan? Dr Mercola dari Amerika Serikat telah melakukan uji coba yaitu dengan menggunakan kamera sebesar pil untuk melihat apa yang terjadi di dalam perut dan saluran pencernaan setelah makan mi instan. Hasilnya sangat mencengangkan.

Dalam video tersebut, sangat jelas terlihat jika mi instan ada di dalam perut. Kondisinya masih sangat utuh bahkan setelah 2 jam. Berbeda jika dibandingkan dengan mi ramen buatan sendiri. Namun hal ini menyangkut untuk sejumlah alasan.

Mi instan memberikan beban pada sistem pencernaan Anda yang dipaksa bekerja berjam-jam untuk memecahnya. Ironisnya, mi instan tidak mengandung serat sehingga akan sangat sulit dipecah.

Ketika mi instan berada dalam saluran pencernaan dalam waktu lama, ini akan berdampak pada penyerapan nutrisi, namun tak ada banyak nutrisi yang ada di dalam mi ramen. Sebaliknya, ada zat adiktif atau pengawet beracun tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ).

Zat adiktif ini mungkin akan tetap berada di perut bersama dengan mi yang Anda makan.

Perempuan yang makan mi instan lebih dari dua kali dalam seminggu berisiko 68 persen lebih memiliki sindrom metabolik, yakni sekelompok gejala seperti obesitas sentral, tekanan darah tinggi, peningkatan gula darah, dan rendahnya tingkat kolesterol HDL.

Memang benar, makan mi instan tidak akan membunuh Anda. Namun jika Anda membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan cepat saji, ini hanya masalah waktu sebelum gangguan kesehatan benar-benar berkembang.

Mi instan adalah contoh utama dari jenis makanan olahan yang harus Anda hindari sejauh mungkin. sebab makanan instan dijamin membuat Anda sakit jika Anda makan terlalu banyak. (Ningtriasih/Mercola.com)